Bicara mengenai perbaikan, umumnya orang baru akan melakukan perbaikan apabila telah terjadi kerusakan, yah kalau masih bagus juga, ngapain mesti diperbaiki, ada juga yang melihat kadar kerusakan, kalau belum terlalu parah juga belum diperbaiki, menunggu ketika sudah total rusak. tapi memang kebanyakan orang baru akan mengambil tindakan setelah sesuatu itu sudah total rusak, jadi ketika masih dalam low level biasanya yang terjadi adalah membiarkan saja, padahal tindakan yang paling efektif adalah mencegah agar tidak sampai ke level terparah kerusakannya, karena apabila sudah sampai ke level yang parah biasanya perbaikan-nya akan sulit dan tidak mudah, harganya juga tidak murah, apapun itu.
Perbaikan lantai kantor tentulah menghasilkan cost, yang didapat dari quantity dan quality dari pekerjaan perbaikan tersebut, dan juga dikalikan dengan waktu pelaksanaan, faktor x&y dll, nah itu merupakan penjabaran untuk perbaikan lantai kantor.
Nah... untuk perbaikan lantai kantor saja memiliki prosedural tertentu seperti tersebut diatas, pertanyaannya adalah bagaimana untuk perbaikan mental? apakah harus menunggu ketika mental telah benar-benar cacat, rusak, sehingga harus diperbaiki, atau melihat dari kadar kerusakkannya?
jika masih dalam tingkatan belum terlalu parah maka diambil langkah membiarkan saja, tapi jika sudah memasuki tahap parah baru kemudian diambil tindakan perbaikan? walau sebenarnya memang yang paling baik adalah dengan melakukan pencegahan, jangan sampai memiliki mental yang rusak, sedikit atau banyaknya tindakan preventif-lah yang memang harus diambil.
Mengingat sekarang banyak sekali terjadi hal - hal yang menyebabkan hati miris dibuatnya, salah satu penyebabnya karena pengaruh kerusakan mental, mental yang sudah korosi dibiarkan saja terus menerus, sehingga berkarat dan dampaknya mengalir kemana-mana. beberapa media sudah memberikan contoh- contoh kerusakan mental yang terjadi dimana -mana, dari berbagai golongan profesi, ada pejabat, ulama, pengusaha, kalangan pengajar, mahasiswa, anak -anak. salah satu yang cukup sering tampil di-media beberapa saat ini adalah kisah seorang anak SD yang dinikahi oleh seorang pengusaha kaya raya dijawa atas restu orang tuanya juga sehingga dia memilih harus berhenti bersekolah, yang dijadikan topik utama beberapa media berita, yang makin marak karena kasusnya telah mencuat kemana-mana, saya no-comment lah tentang hal tersebut, juga saya tidak punya hak untuk memvonis mental siapa yang rusak disini, si Anak-kah? atau si pengusaha kah? atau Orang Tuanya -kah? tapi hal tersebut kembali mengingatkan saya tentang perbaikan lantai dikantorku, lantai ubin yang meretak rusak menganga yang perbaikannya juga membutuhkan cost yang tidak sedikit, dan waktu yang tidak singkat pula mengingat kerusakan ubinnya sudah parah, sehingga kantor harus mengganti seluruh ubin yang lama dengan ubin yang baru.





